I'm Adrian Nanditya from Indonesia, born in Palembang, raised & currently living in Bandung. Eccedentesiast. Gemini. I'm a man who like sarcasm, thoughts, and nice things, anyway. I'm a part of Perang Warna 19 and PTRT XIX and I'm proud!
“Sekali Teman, Tetap Teman”
salah satu tugu dekat Indonesia Tenggelam, ITB
(via bintangkuning)
Because this is just what bookstores in England look like. (Taken with instagram)
(via teachingliteracy)
Lama-lama orang males romatis karena nanti disebut galau. Males peduli karena nanti disebut kepo. Males mendetail karena nanti disebut rempong. Males berpendapat karena nanti dikira curhat. Males mengubah-ubah point of view dalam debat karena nanti disebut labil.. Lama-lama orang males all out karena nanti disebut lebay.
(Source: aciredef)
Dulu kamu bilang kamu ada karena merasa nyaman dan mencari kepuasan. Tapi suatu waktu tidak merasa nyaman dan tidak ada lagi kepuasan, tegakah kau pergi begitu saja?
Gunung tidak harus tinggi, yang penting ada dewanya. Sungai tidak harus dalam, yang penting ada naganya. Orang hidup itu tidak harus hebat dan serba besar, yang penting ada artinya.
(Source: pradikasakti, via wznipradana)
Nobody will give you anything for free so you have to fight hard.
(Source: arsenal.com, via sudutku)
You don’t know what goes on in anyone’s life but your own. And when you mess with one part of a person’s life, you’re not messing with just that part. Unfortunately, you can’t be that precise and selective. When you mess with one part of a person’s life, you’re messing with their entire life. Everything… affects everything.
Ospek, hal yang paling gue tolak kedua di dunia ini setelah homophobia. Salah satu argumen yang selalu digunakan senior ketika mengospek adalah bahwa hal-hal tersebut (pembentakan, hormat paksa, disiplin paksa, pemberian tugas primitif, tunduk, tertib, diam, sopan, sadar hierarki) sengaja “diajarkan” kepada junior karena itu merupakan sesuatu yang akan dihadapi di masa yang akan datang. Junior diharapkan sudah siap dari sekarang dengan kerasnya kehidupan.
Sekilas, junior akan mengangguk-angguk patuh setelah mendengar argumen tersebut.
Sekilas, junior akan menggunakan argumen itu untuk meneruskan tradisi ospek kepada junior-junior berikutnya.
Sekilas, argumen itu nampak logis.
Tapi ternyata omong kosong.
Dengan argumen yang sama, kenapa nggak sekalian diajarkan cara berhubungan seks yang aman? Cara pake kondom? Dosis pil KB yang tepat? Bener kan? Hubungan seks juga sesuatu yang akan dihadapi di masa yang akan datang, dengan segala kerasnya kehidupan.
Munafik. Ospek adalah warisan senioritas sistemik. Kerasnya kehidupan nggak perlu “diajarkan”, apalagi oleh orang-orang yang statusnya juga masih mahasiswa, hanya karena mereka masuk duluan. Biarlah manusia mempelajari sendiri kerasnya kehidupan, mengumpulkan pengalaman sendiri.
Ospek itu nggak masuk dalam kurikulum, tapi melembaga secara materiil dalam sistem pendidikan, berjenjang dari pendidikan dasar sampai tinggi. Malu. Memalukan. Di saat pendidikan idealnya bertujuan untuk menciptakan manusia-manusia yang merdeka jiwa dan raganya, merdeka hati dan pikirannya, di awal tahun ajaran mereka malah diseragamkan dengan label yang merendahkan: JUNIOR.
Kawan-kawan, inilah salah satu budaya Indonesia yang harus kita sadari dan akui. Kalau memang kita harus bangga dengan budaya lokal, unconditionally, maka sambutlah dia: SENIORITAS. Patut bangga loh karena negara-negara tetangga nggak ada yang mau mengakui budaya yang satu ini :)
Indonesia bukan negara agama, tetapi Indonesia juga bukan negara sekuler. Lantas, Indonesia ini negara apa? Sejauh mana agama (atau badan yang mengatasnamakan agama) bisa dibenarkan mencampuri hak warga negara?
(Source: gomat)